Oleh: hatisebeningembun | 02/03/2009

SABAR TERHADAP TAQDIR ALLAH

Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta’ala.

 

Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur

Qadar atau taqdir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqdur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi’lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta’ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha. Contohnya adalah ‘Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar’, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).

Sedangkan al-maqdur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqdur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: “Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan.” Baca Lanjutannya…

Oleh: hatisebeningembun | 18/02/2009

SAATNYA BERHENTI, UNTUK AWAL YANG LEBIH BAIK

 

Riuh sekali getaran suara yang berdebum di dalam ruangan gelap dan lagi pengap itu. Sepertinya waktu malam itu hanya akan habis dalam desak-desakan orang-orang yang terhanyut dalam suasana yang semakin memanas. Semua orang seperti melayang-layang di atas kebahagiaannya, mereka seakan-akan lupa dengan dunia asal mereka, bahagia yang terlalu, rupanya. Baca Lanjutannya…

Oleh: hatisebeningembun | 18/02/2009

JANGAN PERNAH LAYU

 

Riiing…..riiing…..riiing…..

Suara itu sayup-sayup terdengar, perlahan, kemudian makin lama makin terdengar jelas. Mata ini enggan sekali untuk terbuka, hanya tangan saja yang mampu meraba-raba. Ponsel lawas yang dibeli di sebuah toko kecil pinggir jalan dekat kampus sekitar 4 tahun yang lalu itu memang selalu diset untuk berbunyi setengah sampai satu jam jaraknya sebelum adzan shubuh berkumandang. Akhirnya tangan ini berhasil menghentikan alarm yang berdering sedari tadi. “Subhanallah, rasanya baru sebentar saja tubuh ini tertidur……..”. Baca Lanjutannya…

Oleh: hatisebeningembun | 18/02/2009

KETIKA HATI DIRUNDUNG SEDIH

Siapakah yang tidak pernah merasakan hatinya bersedih, yang ketika itu hanyalah tetesan air mata saja yang mampu meredupkan perasaan itu? Setiap manusia yang diberi karunia perasaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pasti pernah mengalami rasa sedih. Perasaan sedih itu sewaktu-waktu bisa datang disaat diri kita sedang mengalami kehilangan, tersakiti, cemburu, tidak tercapainya suatu keinginan ataupun hal-hal yang lainnya. Setiap orang yang sedang mengalami kesedihan, keadaan pikirannya gundah gulana, melayang-layang dalam kesedihannya. Kadang orang-orang disekitar kita menjadi tidak terperhatikan, atau kita merasa butuh waktu untuk menyendiri. Tentu akan ada banyak hal yang terlewatkan ketika kita terpuruk terus-menerus dalam kesedihan. Keluarga kita, sahabat-sahabat kita, Baca Lanjutannya…

Oleh: hatisebeningembun | 18/02/2009

BERKENALAN DENGAN HATI

 

Ketahuilah, sesungguhnya didalam sebuah jasad itu ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak pula. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.

(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)

Diri kita tentunya sudah tak merasa asing lagi dengan kata “hati” atau “qalbu”. Kemudian coba sejenak kita tanyakan lagi pada diri sendiri, apakah sebenarnya hati itu, mengapa ia ada di dalam diri kita, sejak kapankah kita mengenal secara dekat hati yang ada dalam diri kita, hati yang menemani kita sejak berada dalam kandungan ibu tercinta hingga saat kita menghembuskan nafas pada hari ini, pernahkah kita perhatikan keadaannya? Ataukah kita Baca Lanjutannya…

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.